Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Kisah yang Tertinggal di Mataku


Ini ketiga kalinya Andre mengirim pesan yang sama ke ponselku dalam waktu yang hampir berdekatan, setelah kemarin ia berusaha meneleponku, juga sebanyak tiga kali. Panggilan teleponnya memang sengaja kuabaikan. Tetapi setelah lama kutimbang-timbang, tak ada salahnya kali ini kupenuhi permintaannya untuk bertemu. Karena mungkin ada sesuatu yang penting untuk segera ia sampaikan. Meskipun nanti ternyata itu tidak penting, setidaknya aku bisa menunjukkan pada Andre siapa diriku sesungguhnya.

Sambil membereskan kertas-kertas pekerjaan dan arsip rekanan di atas meja, aku menebak-nebak, apa sesungguhnya yang hendak dia sampaikan. Hampir lima tahun kami telah berpisah. Terakhir kali aku melihatnya, ketika kami sama-sama menanti putusan pengadilan perceraian yang harus berakhir tragis, karena Kirana, putriku itu, ternyata jatuh dalam pengasuhannya.

Setelah semuanya sudah rapi, aku lantas berdiri menghadap ke belakang meja kerjaku. Kedua mataku menembus kaca jendela berwarna bening. Dari lantai 25 gedung ini, kulihat mobil-mobil bergerak lambat di semua lajur, orang-orang menyemut di trotoar. Baru kemarin, arak-arakan penyambutan presiden melewati jalan itu. Lautan manusia berjubel, mengiringi pemimpin negeri ini menuju istana. Rakyat bergembira layaknya perayaan pesta.

 Ah, Jakarta tetaplah Jakarta! Kota yang entah kapan terbebas dari kemacetan panjang. Kota yang tak berhenti berdetak dengan segala macam persoalannya.

Melewati langit yang mulai memerah, aku mengangkat ponselku, menelepon balik Andre. Bunyi panggilan terdengar di telingaku. Dadaku berdebar-debar menunggu telepon diangkat di seberang sana.
“Apa kabar, Mira,” suara berat, khas lelaki itu masih terdengar sama.
“Baik,” balasku singkat.
Tiba-tiba aku merasa gugup.
“Bisakah ketemu sekarang?”
“Apa yang membuatmu ingin ketemu?”
“Akan kusampaikan nanti, Mir, setelah kita bertemu.”
“Sampaikan saja sekarang, tak ada bedanya sekarang atau nanti, besok atau lusa. Semua waktu sama saja.”
“Aku mohon Mira. Beri aku kesempatan untuk menyampaikannya secara langsung,” ucapnya memohon. Suaranya terdengar  makin berat.

Ah, kata ‘beri kesempatan’ seolah hadir di ingatanku. Dulu, aku pernah mengatakan itu, mengiba-iba padanya, memohon, agar ia memberikan aku sedikit waktu mengunjungi Kirana. Apakah Andre masih ingat itu? Jangankan mengizinkan, sekadar membalas pesanku pun tak mau ia lakukan. Mendatangi rumahnya, aku malah diusir seperti binatang tak berguna.

Andre memproteksi Kirana dariku. Ia bahkan melakukan penjagaan ketat hingga tak sedetik pun ada kesempatan buatku untuk sejenak merengkuh putriku itu. Ibu mana yang tak rindu dengan anaknya sendiri? Ibu mana yang bisa tahan ketika dipaksa berpisah dari darah dagingnya sendiri? Kalaupun ada wanita demikian, pasti ada sesuatu yang salah pada dirinya. Sudah kodrat  tiap perempuan untuk selalu dekat dengan buah hatinya. Dan Andre sama sekali tak pernah memikirkan itu. Ia memang bajingan!

Aku hampir saja gila, dan ingin segera mengakhiri hidup. Seolah tak ada gunanya segala sukses dan karierku yang mulai menanjak ketika itu.

Aku mematut, memandang ke sekeliling. Gedung-gedung tampak warna-warni oleh lampu-lampu. Tugu monas bersinar keemasan di puncaknya. Tetapi malam akan terus merayap lebih kelam. Malam yang sunyi dan tak pernah peduli.

“Aku mohon Mira, izinkan aku sebentar berjumpa denganmu. Ada sesuatu yang ingin kuberikan,” sahut Andre di ujung telepon.
Aku tersentak, tersadar dari lamunanku.
“Apa itu?” balasku pendek.
“Aku ingin memberikan undangan.”
***

    Kami akhirnya bersepakat bertemu di kafe sebuah hotel sebelah timur bundaran air mancur. Dengan kemacetan yang belum usai, rasanya sangat malas pakai mobil ke sana. Dari kantorku paling cuma 15 menit berjalan ke hotel itu. Lagi pula kupikir pertemuan ini tidak akan lama. Andre cuma ingin menyampaikan sebuah undangan. Hanya itu!

    O, ternyata aku tak perlu menebak sedemikian rumit. Paling undangan pernikahannya dengan wanita itu. Ah, sudah lama sekali. Tiba-tiba aku teringat. Fiona namanya.

    Nama itu kembali muncul dari memori kepalaku. Memuntahkan apa yang kutahu tentang perempuan itu. Dulu, aku dan Fiona adalah teman sejak kuliah di jurusan seni rupa. Kami bahkan satu kos selama menjadi mahasiswa. Dia sosok perempuan cerdas dan mengagumkan. Tipikal perempuan yang tak bisa berdiam diri, penuh ceria, dan sering membuat kelucuan. Fiona juga cantik, kulitnya lebih putih dari kulitku, rambutnya panjang sebahu, dan hidungnya bangir seperti perempuan Arab. Pertemanan kami waktu itu seolah tak terpisahkan. Bahkan setelah aku menikah, kami masih sering berjumpa.

    Suatu saat, aku mengajaknya membangun sebuah usaha galeri lukisan. Karena tempat yang pas belum ada, serta untuk menekan biaya, tempat galeri lukisan kami buat sementara di rumahku. Letaknya dekat garasi. Waktu kusampaikan pada Andre, ia tak keberatan. Lagi pula Kirana baru lahir saat itu sehingga aku bisa mengelola galeri sambil merawat Kirana.

    Namun, di sinilah persoalan itu hadir. Aku terlambat menyadari ketika semuanya terjadi begitu saja. Aku terlalu percaya selama Fiona tinggal di tempatku mengurusi lukisan yang kami kumpulkan, ternyata dia dan Andre bermain api di belakangku. Aku tidak tahu sejak kapan mereka memulainya. Entahlah, mungkin ini ketololanku sendiri. Namun sangat jelas kusaksikan bagaimana mataku melihat mereka bercumbu di dalam galeri ketika aku tiba di rumah. 

    Sebenarnya aku tak perlu kembali mengingat semua itu. Tak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Aku tidak ingin terbelenggu oleh masa lalu. Lagi pula, dengan karierku saat ini, sebagai kurator lukisan yang sudah merambah banyak negeri, telah membawaku mengenal banyak sosok lelaki. Suatu hari, aku akan memulai hidup baru dengan lelaki pilihanku. Lelaki yang sepenuhnya menjunjung tinggi kesetiaan.

    Meski kucoba melupakan ingatan itu,   aku tidak mampu melupakan Kirana. Apakah Kirana masih ingat padaku? Mungkin dia sudah sekolah sekarang. Ah, aku tak bisa bayangkan jika Kirana memanggil ‘Ibu’ pada pelacur itu. Sungguh menyakitkan jika itu terjadi. Seperti ketika Andre merebut Kirana dari tanganku, malam sebelum aku meninggalkan rumah.

    “Kirana akan kubawa bersamaku!” desakku histeris.
    “Kau boleh pergi, tapi Kirana tetap tinggal di rumah ini!” sergahnya dengan suara tinggi.
    “Tidak! Tak akan kubiarkan perempuan itu menjamah anakku!”
    “Bukan urusanmu! Kau boleh angkat kaki dari rumah ini!’
    “Bangsat kau, Andre!” teriakku sekuat tenaga.
***

    Aku kemudian sampai di lobi dan segera masuk ke kafe di bagian samping hotel. Langkahku terasa ringan memasuki ruangan itu. Tak banyak tamu yang kulihat. Hanya tiga meja yang terisi. Baguslah, aku memang tidak terlalu suka dengan keramaian. 

Seorang pelayan menyambutku ramah dan segera menuntunku menuju meja yang kutunjuk di sebelah pojok kiri. Lantas pelayan itu menyodorkan menu. Kutatap sekilas dan langsung menyebutkan pesananku. Tanpa berlama-lama, pelayan itu kembali datang membawa dua cangkir coffee espresso dan kemudian berlalu dengan wajah setengah bertanya-tanya. 

Sebenarnya dalam percakapan sore tadi, Andre ingin mengajakku makan malam di restoran hotel ini, namun aku menolaknya. Sesuai kesepakatan, pertemuan ini hanya sebentar. Tak lebih hanya untuk menerima sebuah undangan. Bisa saja ia hendak mempermalukanku dengan undangan itu, meski aku belum sepenuhnya tahu undangan apa yang ingin dia sampaikan.

Aku sangat paham dengan Andre. Ia seorang marketing yang  andal. Pintar meyakinkan orang, dan kerap berhasil melakukan negosiasi dengan rekan bisnisnya. Makanya, pimpinan perusahaan ekspedisi ekspor-impor tempatnya bekerja, mengangkat dia menjadi marketing manager. 

Itu posisi jabatannya terakhir yang kutahu sebelum kami berpisah. Itu juga yang membuatku harus lebih berhati-hati. Baiklah! Akan kuikuti permainannya. Aku juga ingin menunjukkan siapa diriku sesungguhnya. Mungkin saja ia sudah tahu bahwa aku salah satu kurator lukisan ternama di negara ini. Bisa saja ia tahu dari majalah, tabloid, atau televisi yang pernah meliput kegiatanku. Lukisan-lukisan berkelas di ibu kota sudah pasti menjadi incaranku. Termasuk mengikuti pameran lukisan kelas dunia di Paris, Roma, London, atau Zurich  tiap tahun.

Ini bukan sekadar pertemuan biasa, aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa aku bukan lagi perempuan seperti di kepalanya. Andre akan tahu itu sebentar lagi!

Lelaki yang kutunggu itu akhirnya tiba. Hampir pukul sembilan. Andre berjalan mendekati meja dan duduk di kursinya setelah kupersilakan. Kami saling berhadapan. Meja marmer persegi ini memisahkan kami. Ia agak gugup ketika kutawarkan kopi yang sudah tersaji di depannya. Kupandangi tubuhnya lekat, seperti menelanjanginya bulat-bulat sebelum melancarkan permainan sebenarnya. Baju putih lengan panjang yang ia pakai terlihat agak lusuh. Rambutnya pun panjang tak terurus. Tetapi tubuhnya masih sama seperti dulu. Aku pernah merasakan tangan kekarnya yang sering melingkar lembut di pinggangku. Juga dada bidangnya tempat kepalaku berlabuh.

Tidak! Aku tidak boleh terlena. Permainan ini akan segera dimulai.
“Kau ingin mengantar undangan perkawinanmu?” sentakku tanpa basa-basi.
Andre tergagap dan mulai gelisah. 
“Kenapa harus begitu lama, sampai menunggu hampir lima tahun?” lanjutku tidak peduli dengan perubahan wajahnya.
“Tak bisakah aku mendengar kabarmu barang sebentar, Mira?”
“Untuk apa? Maaf, jika ternyata kau datang cuma menghabiskan waktuku untuk sesuatu yang tak penting, aku pamit!” kataku ketus, sambil menggeser kursi dan berdiri ingin meninggalkan meja.

“Semua ini soal Kirana, anak kita,” sergahnya ikut berdiri sambil tangannya mencoba menahanku. Aku tersentak. Dadaku berdegup kencang ketika Andre menyebut nama itu. 

Andre kemudian mengambil sesuatu dari kantong bajunya. Sehelai kartu kecil bergambar anak kecil. Ia menyodorkan kartu itu kepadaku. Tubuhku bergetar seketika dan membuatku terduduk kembali di kursi. Kuterima kartu kecil berwarna merah jambu itu dari tangannya. Dan tak sabar membaca isinya.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tiga tahun terakhir ini, Kirana selalu bertanya di mana ibunya. Dia sering mengigau malam-malam, memanggil ibunya. Aku tak sanggup untuk menahan semua ini. Besok adalah hari ulang tahunnya yang keenam. Kirana ingin kamu hadir saat perayaan ulang tahunnya.”

Tanganku bergetar memegang kartu itu. Ulu hatiku tiba-tiba terasa sakit. 
 “Aku cuma ingin menyampaikan undangan dari Kirana,” ucap Andre tertunduk pasrah. “Soal Fiona, aku mohon maaf padamu. Dia sudah pergi setelah proses perceraian kita lima tahun lalu. Kami benar-benar lupa diri saat itu. Aku yang salah, Mira,” lanjut Andre penuh sesal.
“Apakah Kirana baik-baik saja,” ucapku dengan suara  serak.
Andre mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca. 
“Kemarin aku dan Kirana ikut arak-arakan hingga ke istana. Kami sempat berhenti di depan gedung kantormu. Aku katakan bahwa kamu ada di dalam gedung itu.”
***

Di dalam mobil yang melaju, air mataku tak henti-henti mengalir. Tak ada musik syahdu. Tak ada percakapan sepanjang perjalanan. Hanya kebisuan melenakan kami. Andre memegang setir mobil sambil menatap ke depan. Kutatap wajahnya lebih lekat, sedekat yang kusanggup. Wajahnya terlihat kusut. Wajah yang letih. Aku juga sangat letih. 

Hatiku mungkin masih membatu, sebab luka yang dibuatnya belum sepenuhnya sembuh. Tetapi, Andre mulai membuka tabir hatiku lewat Kirana. Kartu undangan itu masih tergenggam erat di tanganku. Aku tidak sabar. Mulutku ingin bersuara agar Andre membawa mobil ini lebih cepat. Aku tak ingin terlambat.(f)


                        Medan, Awal Oktober 2014


************************
Hasudungan Rudy Yanto Sitohang
Loading...
Loading...