Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

3 Wajah Marissa - 10

Mereka semua disebutkan oleh Pak Harso tadi siang. Dan mereka berasal dari sekolah yang sama. Betapa menakjubkannya, bahwa keduanya bisa berada di tempat yang sama dalam kurun waktu berbeda.
Rasa penasaran membuatku menjelajah di Google, menulis nama akademi yang dimaksud untuk mencari tahu. Sambil menunggu, aku memperhatikan dua lembar foto. Yang satu adalah foto lama dari Stasiun Tugu Yogyakarta. Aku mendadak ingat, foto yang sama juga tergantung di ruang kerja Pak Yudha. Sungguh sebuah kebetulan berikutnya.
Sedang yang lainnya adalah juga sebuah foto lama. Foto sekelompok wanita yang tengah berpose pada sebuah lesehan makan di kaki lima. Kuperkirakan tempat itu berada di Yogya juga. Pada spanduk yang menempel di belakang tempat makan kaki lima itu tertulis: ’Goedeg Toegoe Jogja’.
Tetapi, buat apa Delia mengumpulkan foto-foto dan salinan ijazah lama? Kuangkat kepalaku karena leherku menjadi demikian kaku. Kembali ke monitor dan aku kecewa. Pencarian atas nama akademi itu tidak berhasil. Kuketik nama ASMADJY untuk dijelajah. Kembali gagal. Aku makin penasaran. Apakah sekolah itu pernah ada atau tidak, ya? Kuketik Dharma Jaya. Yang keluar ternyata nama kelenteng, merek bakso, dan nama sebuah yayasan sosial yang setelah kutelusuri ternyata milik perkumpulan etnis keturunan Cina.
Kok, jadi butek begini, ya? Kalau aku gagal mendapatkan sebuah petunjuk, maka Delia akan mengacau hidupku lebih lama lagi. Kuhirup teh manisku yang sudah dingin. Mbok Nah kedengaran mendengkur halus dari atas dipan. Siaran teve masih menyala dan kubiarkan saja. Jika kumatikan, maka ia akan segera terjaga. Aku sudah tahu kebiasaannya itu.
Satu-satunya harapanku adalah pada ponselnya. Dari jenis smartphone yang cukup andal dan yang pasti mahal harganya. Beruntung pin pembukanya standar saja, 1234, jadi aku bisa masuk ke dalamnya. Yang lebih mengherankan, aku hanya menemukan lima nama dalam phonebook-nya. Untuk seorang sekretaris yang seharusnya memiliki jaringan luas, Delia benar-benar payah. Kelima nama itu adalah nomor Pak Yudha, Bu Yudha, Satya, Bu Nanik, dan aku, Rania. Aneh juga, seorang staf biasa seperti aku bisa masuk ke dalam lima besar orang yang patut dicatatnya.

Loading...
Loading...