Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

3 Wajah Marissa - 2

Aku tidak tahu apakah karena Satya masih menyimpan kekesalan yang begitu luar biasa pada seorang Delia, atau karena memang watak aslinya demikian sehingga Satya tampak begitu tega di mataku. Tapi, kalau dipikir-pikir, Delia memang keterlaluan. Ia telah membuat Satya terlunta-lunta di Lombok pada saat menghadiri undangan kewirausahaan di sana.
Oh, ya, ampun... betapa marahnya dia. Aku bisa mengerti betapa paniknya dia saat meneleponku pada hari Jumat kemarin. Ia sudah sampai di Hotel Grand Emerald pada pukul 8 malam waktu Lombok. Ia terpaksa berangkat hari Jumat malam dari Surabaya karena penerbangan pada Sabtu pagi sudah penuh. Sedangkan esoknya ia harus mengisi acara ceramah pada sesi kedua.
Aku bisa membayangkan kemarahannya. Satya baru saja tiba dari Singapura, belum sempat pulang ke rumah. Ia sudah harus pergi memberikan pengalamannya menjadi pengusaha waralaba yang sukses pada seminar marketing bagi para pemula di Lombok. Ia lelah, tapi masih memiliki semangat untuk menularkan ilmunya. Tetapi, apa yang diperolehnya adalah kekacauan. Delia adalah sumber kekacauannya itu.
Sebenarnya, Satya tidaklah sekasar itu. Ia lebih menjurus untuk selalu bersikap tegas, serius, dan memegang tinggi komitmen. Tak heran, di usianya yang baru 30 tahun, ia sudah memiliki semuanya. Investasi, prestasi, dan prestise. Ia memiliki jaringan waralaba untuk bakso dan bebek goreng yang tersebar di seluruh negeri. Serta sebuah pabrik pengalengan ikan warisan ayahnya yang menjadi cikal bakal perusahaan kami sekarang ini.
Satya bukanlah tipe orang yang cukup sabar. Ia menginginkan semuanya berjalan dengan cepat, tepat, sesuai kesepakatan bersama. Ia tidak akan senang, jika ada sesuatu yang keluar dari komitmen itu. Lebih-lebih, jika tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal.
Dan Delia sudah melewati batas kesabarannya. Bukan sekali ini Satya sudah dibuat keki oleh wanita itu. Tiga bulan lalu, ia hampir gagal menggelar pameran bisnis UKM di Malang karena tidak mengantongi izin dari pihak pemda setempat. Padahal, Satya sudah menandatangani proposalnya tiga bulan sebelumnya. Setelah diselidiki, ternyata file itu masih tersimpan di laci meja Delia, tertumpuk berkas-berkas lain yang tidak berguna.
Kami juga pernah kena denda besar dalam perpajakan karena terlambat setor. Masalahnya, berkas itu tidak sampai ke tangan bagian akunting untuk diserahkan ke kantor pajak. Usut punya usut, Delia menghilangkannya. Ia tidak ingat di mana terakhir kali ia meletakkan berkas itu. Yang jelas, ketika kami bantu mencarinya, amplop itu tidak pernah ada. Jadi, terpaksa kami lembur untuk mengerjakan sekali lagi. Dan kena denda, tentunya.

Loading...
Loading...