Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

3 Wajah Marissa - 31

“Jadi, kaupikir... mereka ini...,“ suara Satya menggantung, kedengarannya tidak yakin dan lemah untuk seorang yang keras dan otoriter seperti dirinya. Aku mengangguk tegas. Satya tampak bimbang.
“Sama. Satu orang yang sama untuk tiga masa yang berbeda.“
“Tapi, bagaimana mungkin ini terjadi. Bagaimana ia bisa begitu kejam?“ ia memandangku tak mengerti.
“Untuk seorang wanita yang sudah menyerahkan segalanya dan berjuang habis-habisan untuk mendapatkan cintanya.“
Kemudian aku mengulang cerita penemuanku di apartemen Delia. Bagaimana aku mencari data pada malam itu. Lalu tentang pembicaraanku dengan Bu Maryam. Aku juga menghubungkan dengan kisah tragis dua sekretaris yang malang itu. Kupertegas dengan analisis Dokter Aulia dan bukti billing statement yang menyatakan adanya tindakan atas wajah wanita itu. Dan SMS-SMS itu. Satya menarik napasnya dalam-dalam.
“Jika semua ini benar, apa yang diinginkannya dariku?“ tanyanya, ragu.
“Rasa aman,“ jawabku, santai.
Ya, hanya itu yang diharapkan Delia atau Nadia atau Marissa. Rasa aman untuk menjamin hari tuanya. Ia sudah gagal memperoleh kebahagiaan dalam merebut kembali Pak Yudha. Sekalipun segala cara sudah dilakukannya, ia tidak dapat meraih cinta yang dulu pernah membahagiakannya. Harga sebuah cinta sejati tidak dapat dinilai dari bentuk dan keindahan fisik yang diperjuangkannya habis-habisan. Hanya ketulusan yang dapat menjaga sebuah cinta menjadi abadi. Seperti yang dilakukan Pak Yudha terhadap istrinya yang rapuh.
Satya termenung dalam waktu yang lama. Mungkin ia sedang berpikir keras mencerna apa yang barusan kusampaikan. Berkas-berkas itu aku ambil kembali, lalu kumasukkan ke dalam ransel. Seorang perawat datang kepada kami dan mengatakan bahwa Delia kembali gelisah. Kami bergegas masuk untuk melihat keadaannya.
Wanita itu terbaring dengan kedua tangannya terikat pada tepi ranjang. Mungkin ditujukan agar ia tidak mencakari wajahnya lagi seperti sebelumnya. Ia memperhatikan kami tanpa ekspresi apa pun saat melihat kami masuk. Padahal, aku berharap ia akan berteriak histeris melihat kedatangan Satya.


PREV    NEXT
Loading...
Loading...