Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

3 Wajah Marissa - 4

Apartemen ini mirip dengan hotel. Ada lobi, minimarket, restoran, children ground, salon & spa, juga tempat menjual majalah. Aku menuju resepsionis yang sudah tersenyum padaku saat aku berjalan ke arahnya. Dengan ramah ia memperkenalkan dirinya, lalu menanyakan maksud kedatanganku.
Sudah pasti aku berterus terang mengharapkan bantuan mereka agar dapat masuk ke dalam apartemen Delia. Karena ketidaklaziman ini, aku harus menjalani beberapa prosedur ruwet yang akhirnya mempertemukan aku dengan manajer pengelola yang bertugas saat itu. Aku harus mengulang kembali ceritaku sebelum akhirnya diizinkan membuka pintu apartemen Delia didampingi manajer pengelola itu dan seorang anggota sekuriti.
“Bu Delia sakit apa, Bu?” Pak Harso, manajer yang mengawalku, bertanya ketika kami berada di dalam lift.
“Kurang tahu, ya, karena masih diobservasi. Hasil laboratoriumnya juga belum keluar. Saya diminta mencari keluarganya, Pak.”
“Oh, begitu. Mungkin agak susah juga bagi Ibu,” di luar dugaan, Pak Harso mengatakan sesuatu yang mengejutkanku.
“Mengapa demikian?”
“Selama tinggal di sini, kami hampir tidak pernah melihat Bu Delia kedatangan tamu. Beliau juga tidak pernah bergaul dengan para penghuni apartemen lainnya. Sama seperti teman-temannya yang terdahulu.”
“Teman-temannya terdahulu?” aku mengerutkan alis.
Pak Harso tersenyum sopan seraya mengangguk.
“Para sekretaris almarhum Pak Yudha memang tinggal di sini. Ada tiga seingat saya. Bu Marissa, Bu Nadia, dan Bu Delia.”
Oh, ya, ampun… aku malah baru tahu. Memang ada rumor miring mengenai kehidupan Pak Yudha, ayah Satya itu. Wajahnya memang tampan, bertubuh tinggi tegap. Ia adalah mantan pelaut yang sukses membuka usaha penangkapan, pengalengan, dan pembekuan ikan. Penampilannya flamboyan, dan suka sekali pada wanita-wanita cantik dan bertubuh seksi. Sangat berbeda dengan Satya yang keras, tegas, dan fokus pada segala hal yang membuatnya sukses di usia yang belum mencapai tiga puluh tahun.

Loading...
Loading...