Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

3 Wajah Marissa - 6

Pak Harso kemudian menyodorkan sebuah blister obat yang sudah kosong yang diambilnya dari meja rias. Exelon, itu yang terbaca di antara kepingan bungkus aluminium yang bisa kubaca.
“Barangkali diperlukan, Bu,“ ujarnya, sopan.
Berkas-berkas yang berserakan itu juga kumasukkan kembali dalam sebuah map yang ikut terjatuh, lalu kujadikan satu ke dalam travel bag. Setelah semuanya kupandang cukup, aku dan Pak Harso sama-sama menandatangani surat pernyataan serah terima barang dari apartemen Delia. Sayangnya, aku tidak menemukan laptop atau PC yang dapat kuambil datanya.
Ketika sore itu aku tiba kembali ke rumah sakit, aku dikejutkan oleh laporan Bu Nanik mengenai keadaan Delia saat kutinggal tadi. Katanya, Delia berteriak-teriak histeris seperti orang gila. Delia tidak dapat mengendalikan dirinya sampai ia harus dipegangi banyak orang. Ia tidak mengenali Bu Nanik yang berada di dekatnya. Bahkan, ia tidak mengenali dirinya sendiri.
“Dia terus meminta cermin dan mengatakan ingin kembali... ingin kembali. Tidak tahu mau kembali ke mana. Sudah kayak gini, Ran,“ cerita Bu Nanik, sambil menyilangkan telunjuknya di dahi.
Aku merasa tidak enak seketika. Apakah ia ingin kembali bekerja? Vonis Satya atasnya merupakan pukulan telak yang bisa menghabisi jaminan masa depannya. Bagaimana tidak? Untuk seorang sekretaris dengan kategori lemot begitu, Delia memiliki gaji besar. Hampir setara dengan gaji manajer senior!
Bu Nanik bangkit dari duduknya.
“Mau ke mana, Bu?“ tanyaku tidak enak melihatnya seperti mau kabur begitu. Wanita berusia lima puluh tahun itu tertawa. Ia mengatakan harus kembali ke kantor karena Satya mendesak dibuatkan ini dan itu. Bu Nanik juga mengatakan, Satya akan menyusul ke rumah sakit, tapi tidak dijelaskan kapan waktunya. Oh, sempurna sekali.
Lalu aku ditinggal sendirian. Aku mulai menyibukkan diri dengan menyelesaikan beberapa masalah Delia. Mengatur bajunya di loker kecil di bawah mejanya, menebus beberapa obat di apotek dan beberapa administrasi lainnya yang cukup melelahkan. Aku harus mondar-mandir ke sana-sini sampai akhirnya semuanya selesai selepas magrib. Aku baru bisa duduk beristirahat pada sebuah kursi di depan kamar Delia.
Kuangkat wajahku saat aku mencium aroma parfum yang amat kukenal menebar harum di sekitarku. Satya berjalan mendekat dengan gayanya yang khas. Tegak, lurus, dan tanpa suara. Jika saja ia tidak mengenakan parfum 

Loading...
Loading...