Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Masih Ada Puisi Cinta - 4

“Ketika hubungan kita yang manis tiba-tiba terenggut oleh kekuasaan orang tuamu, dan Mas tiba-tiba harus keluar negeri, dunia ini rasanya mau kiamat. Tahukan Mas, bahwa saat itu aku telah mengandung? Mengandung benih Mas?”
Tiar tersentak. Telinganya seperti mendengar petir di sore itu. Ia menatap Risnani tak percaya.
“Meskipun aku seorang pelacur, Tuhan maha tahu, bahwa apa yang aku ucapkan adalah yang sebenarnya…”
“Jadi?”
“Hubungan kita yang mesra, telah membenihkan seorang janin!” ucap Risnani tegas. Kembali dua butiran bening bergulir ke pipinya.
Tiar terhempas. Rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya.
“Pernah aku ke rumah Mas. Menjelaskan apa yang terjadi. Tetapi ibu Mas mencaci maki aku. Ia menuduh aku wanita jalang yang haus seks. Ia mengusirku seperti anjing gelandangan. Alangkah sakitnya, dapat Mas bayangkan. Penderitaanku tidak sampai di situ saja. Ibumu berteriak histeris dan melempariku dengan kerikil-kerikil yang ia dapatkan. Persis seperi melempari anjing kudisan! Aku hanya dapat berlari dan berlari waktu itu. Tak tahu apa yang mesti aku perbuat…”
Tiar semakin terhempas. Wajahnya kelam.
Giginya gemeretak. Menahan kemarahan yang hampir membeludak. Tanganya meremas-remas teplak meja dekat toilet.
“Mama! Tak di sangka!”
“Sudahlah! Semuanya sudah kuanggap selesai. Aku menyadari bahwa aku orang kampung. Biarlah semuanya ini kuanggap sesuatu yang memang harus kuterima,” ucap Risnani sambil mengusap butiran bening yang bergulir di pipinya.
Tiar menunduk dalam geram. Matanya menatap dinginya lantai. Ia tidak berani menatap mata Risnani yang poenuh penderitaan. Ia tak sanggup. Karena Tiar merasa, dirinyalah penyebab semua penderitaan perempuan cantik di depannya ini.”
“Anak kita?” tanya Tiar sendu, setelah beberapa saat diam.
“Semula aku ingin abortus. Tetapi kupikir betapa  kejamnya diriku ini, jika hal itu kulakukan. Kasihan anak yang tak berdosa itu. Ia menjadi korban kekerdilan manusia. Mas Tiar dapat bayangkan penderitaanku melahirkan bayi tersebut, tanpa seorang suami di sisiku,” kata Risnani getir. Kegetiran yang menggigit.
“Maafkan atas kebodohanku, Risnani!”
Perempuan dengan sejuta duka itu menggeleng letih. Bibirnya tersenyum, tapi telaga matanya menggembang. Kemudian meluap kembali lewat pipi yang sembab itu, lantas berulir seperti anak sungai yang mungil, yang baru mengalir dari mata air.
“Mas tidak bersalah, mungkin nasibku saja yang terlalu buruk,” ucap perempuan itu lebih lanjut, meski tesedat pilu. Ia kemudian melangkah ke jendela. Menatapi kelamnya langit. “Ah! Langit yang suram! Getir sekali,” desahnya.
Lelaki dengan dada bidang itu menunduk dala,. Gurat penyesalan demikian jelas membayang di wajahnya.
“Setidaknya, akulah penyebab segala penderitaanmu, Ris. Maafkan atas segala kekuranganku…!”
“Lupakanlah!”
“Tidak, Ris! Mungkin aku datang buat menebus segalanya. Kita harus menikah, Riris. Aku ykin kita bakal bahagia,” kata Tiar.
Risnani tersenyum patah.
“Aku bahagia mendengar itu, Mas. Tapi mengapa mesti saat ini baru Mas lontarkan?”
“Terlambat?”
Risnani mengangguk sambil menggigit bibirnya. Sakit!”
“Belum!”
“Mas?”
“Belum terlambat, Ris!”
“Aku sudah bertunangan, Mas..”
Tiar terpana. Ucapan Risnani menghempaskannya ke jurang kenyataan paling pahit. Ia menghela nafas panjang.
“Tidak bisakan kau tinggalkan tunanganmu?”

Loading...
Loading...