Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Masih Ada Puisi Cinta - 5

Risnani menggeleng lemah.
Matanya sembab.
Hatinya semakin perih.
Kemudian Risnani mengangsurkan jemari tangan kirinya. Pada telunjuk jari manisnya melingkar sebuah cincin mungil. Cincin pertunangan! Ah, betapa manisnya cincin itu melingkar di jemari indah itu.
Tiar mentap Risnani. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam. Untuk kesekian kali, ia di hempas kecewa. Sakit sekali ulu hatinya.
“Siapa orang yang bahagia itu?”
“Begitu pentingkah untukmu?”
“Ya..”
“Aku yakin Mas belum mengenalnya. Ia orang Semarang, langgananku. Ia begitu mencintaiku.” Kata Risnani getir dan hampa.
“Aku juga menyintaimu..”
“Dia memberi harapan padaku, Mas!”
“Aku justru sangat berharap kau menjadi istriku, Ris. Aku ingin bertanggung jawab atas dosa yang pernah kita lakukan, “ kata Tiar tandas. Hatinya terlalu sakit oleh kenyataan yang menghujam ini.
Risnani menggeleng letih.
“Tidak Mas, biarlah cinta kita terkubur oleh waktu. Kenyataan yang getir telah menyadarkan aku memilih jalanku. Meski kita pernah terikat dalam satu janji. Tapi, penantianku yang panjang telah menyeretku kesini, menyebabkan hatiku yang tegar dan di penuhi angan-angan yang indah, telah hancur dan tersepih. Sedangkan yang sekarang tinggal, hanya kerapuhanku. Aku termakan waktu dan di dera nasib.” Kata Risnani lebih jauh lagi. Matanya berkaca-kaca. Tergenang oleh butiran bening yang mengembang. Dan telaga yang redup itu, buat kesekian kalinya meluapkan tangis yang panjang.
Tiar tersedak kelu. Hatinya merintih. Pencariannya selama ini di rasakannya sia-sia. Ya, sia-sia belaka!
Keduanya terdiam dalambeban pikiran masing-masing. Hanya isak dan sesak nafas yang berirama.
Kamar itu menjadi sepi. Sepi yang berirama nyeri.
Tiba-tiba Tiar menatap Risnani dalam-dalam.
“Anak kita?”
Suara itu terlontar pelan dari bibir lelaki berdada bidang itu. Namun begitu jelas dan mengagetkan Risnani.
“Ia berada di suatu tempat yang aman. Tidak pernah mengetahui kalau ibunya seorang pelacur di kota ini. Yang dia ketahui, setiap kali aku pulang membawakan oleh-oleh untuknya. Ia menyangka aku seorang guru, karena sering kubawakan buku-buku bergambar yang menarik buatnya. Mas dengar, anakku menyangka aku bekerja sebagi guru?” kata Risnani menjelaskan. Ia tersenyum getir sekali ketika berucap demikian. Senyum getir yang mengundang iba setiap orang yang menatapnya.
Kemudian perempuan itu melangkah ke almari bufet. Ia tarik sebuah laci. Diambilnya sebuah foto ukuran kartu pos dar dalamnya. Diberikannya kepada Tiar dengan sinar mata kalah itu.
“Ini anak kita….,” ucap Risnani lirih, sambil menggigit bibirnya kuat-kuat. menahan haru dan kesedihan.
Sebush foto bergambar seorang anak yang mungil dan mnis, sambil tersenyum dan melambaikan tanganya yang kecil. Ah! Haru menyedak dada  Tiar. Matanya berkaca-kaca. Tidak sadar dua butiran bening bergulir dari kelopak matanya. Tiar  tergugu dalam keharuan yang dalam.
“Laki-laki?” tanya Tiar tersendat. Dadanya di penuhi rasa haru yang menyesak. Bibirnya masih bergetar.
“Dia pakai anting-anting…”
“Perempuan?”
“Ya…”
“Ia akan cantik seperti ibunya,” ucap Tiar memuji. Meski masih tersendat. Ia berusaha menunjukkan keregarannya kembali.
Kembali Risnani menggigit bibirnya kuat-kuat. sedih itu merajah dadanya kembali.namun sebuah senyum, meski kelihatan patah, tersungging juga. Dan mengembang diantara pipinya yang tirus.
“Kau baik sekali…”
“Ris…”

PREV    NEXT
Loading...
Loading...