Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Masih Ada Puisi Cinta


Episode 1

Risnani menghempaskan nafasnya dalam-dalam. Ia mengamati punggung orang yang sedang menutup pintu kamar itu dengan pelan. Wajahnya yang semula pias terbentur oleh rasa kaget, berangsur-angsur seperi di aliri darah kembali.
Ia menenangkan perasaannya. Kemudian tersenyum dengan manis, seperi biasa bila ia menerima tamu-tamu lelaki yang masuk ke kamarnya. Tak peduli wajah tampan atau buruk, muda atau tua. Pekerjaannya yang memuakkan itu mengharuskan ia berlaku demikian. Bersikap manis terhadap semua tamu. Tak pandang bulu siapapun tamu itu.
Tapi kali ini degup jantung Risnani berdetak keras.
“Selamat sore…,” sebuah sapa dan senyum yang lembut, yang memang telah lama di milikinya, ia lontarkan dengan manis. Meski ia menyadari bibirnya sedikit bergetar.
Lelaki itu menatapnya dengan diam. Sinar matanya menghujam tajam ke wanita cantik di depannya. Ia jilati denga mata jantannya sosok perempuan dengan tubuh mengiurkan itu. Dari kaki sampai dengan ujung rambutnya. Tak ada yang terlewatkan. Matanya terpana. Dadanya bergetar. Seperti dada Risnani yang menerima sinar mata yang tajam itu. Risnani masih merasakan ada sinar rindu yang terpancar dari balik telaga mata yang jantan dan teduh itu. Ia masih merasa akrab dengan telaga yang kecil tapi maha dalam, milik lelaki yang selama ini hampir selalu memenuhi mimpi-mimpinya.
“Riris…” bibir lelaki itu dan dada bidangnya bergetar lembut. Menyebut sebuah nama masa lalu.
Ada  sesuatu yang bergejolak di kedalaman hati Risnani. Suara itu masih begitu akrab di telinganya. Mata itu juga manis dan lembut bagi hatinya. Tapi mengapa beliung matanya terasa begitu mengiris hati? Mengapa begitu menyakitkan hatinya?
Risnani menelan lidah dengan getir.
“Riris…” kembali lelaki dengan dada bidang itu menyebutkan sebuah nama, yang sebenarnya sudah tidak asing lagi baginya. Nama itu memang pernah lekat di dalam kehidupannya. Namun telah lama ia tenggelamkan dalam ketiadaan.
Risnani tersedak sesaat. Lewat jendela kaca kamarnya, ia sempat melihat mentari rebah di cakrawala.
“Di sini tidak ada yang bernama Riris, mas…,” Risnani berkata dengan tenang.  Namun sesaat ia terkejut sendirindengan ucapannya.
Lelaki berambut lurus dengan warna gelap itu menghela nafas. Kecewa. Ia tak mengira perempuan manis di depannya itu dengan mudah menutupi getaran hatinya.
“Aku tahu di sini kau punya banyak nama. Risnani, Risna Hapsari dan Ristanti. Aku tahu itu. Dan aku tidak peduli. Engkau berhak mengganti namamu dengan sejuta nama lain. Tapi aku yakin engkau tak pernah membohongi hatimu, bahwa engkaulah Riris yang pernag ku kenal dulu,” ucap lelaki itu lirih tapi tajam. Risnani terhenyak. Hatinya seperti tersobek oleh sembilu yang baru saja terlontar itu. Luka lamanya terkuat kembali.
“Aku  tak mengerti maksudmu, Mas?” kata Risnani letih. Matanya menyembunyikan kegugupan itu.
“Aku tahu mata dan hatimu masih mengenalku,” ucap pria berdada bidang  dan berambut lurus hitam serta pendek itu. Lelaki itu menghempaskan tubuhnya di kasur yang empuk itu.
Untuk kesekian kali pula Risnani tersedak. Kembali ada getir menghujam ulu hati. Begitu mengiris. Namun kemudian cepat perempuan yang sesungguhnya cantik itu tersenyum.
“Ah lupakanlah tentang nama yang tidak punya arti itu. Apalagi artinya sebuah nama di sini? Lupakanlah apa yang barusan kita percakapkan!” ucap Risnani tegas. Kemudian dengan sikap profesional, jemari tanganya dengan lincah membuka kancing bajunya.
“Riris!?” lelaki itu terbelalak kaget. Tetapi perempuan dengan tubuh mulus itu sudah tidak di lekati sehelai benangpun. Senyumnya menantang penuh gairah.
Pria dengan dada bidang itu mundur selangkah. Wajahnya pucat.
“Lelaki yang datang ke tempat semacam ini, apa yang di cari selain ini? Ayolah mas! Mengapa ragu? Bukankah ini yang Mas cari? Bukankah ini yang begini yang Mas rindukan?”
“Tidak Ris! Itu tidak usah kita lakukan,” ucap lelaki itu dengan getir. Matanya menatap jendela kaca di sana. Yang terlihat hanya lengit yang mulai buram.
“Pakai bajumu, Ris!” tegas suara lelaki itu di telinga Risnani.
“Mas?”
“Pakai bajumu!”
“Kau munafik!”
“Terserah…”
Loading...
Loading...