Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Masih ada Puisi CInta - 10

Kamar itu menjadi hening. Sunyi yang demikian mencekam.
Risnani menyisir rambutnya di depan toilet. Matanya juga memancarkan kesedihan. Ooo, dua perempuan yang terhempas sepi yang panjang dalam dunianya. Dengan masa depan yang entah seperti apa warnanya. Siapakah yang sanggup membalut kesedihannya?
“Ris…”
“Ya..?”
“Aku yakin kau tidak kerja hari ini. Tapi mengapa kau berikan uang sebanyak itu pada perempuan yang tak pernah kenal belas kasihan itu? Apa sebabnya, Ris?”
“Entahlah….”
“Aneh,” desah Ambar masih kentara kesedihannya.
“Aku ingin tenang, Ambar. Rupanya ketenangan itu bagi kita terlalu mahal, bukan?
Ambar menarok nafas dalam-dalam. Ia menatap Risnani dengan mata yang sembab. Entah mengapa, malam ini hatinya demikian perih. Seperti di rajaah sembilu yang tajam. Di tambah perasaan nelangsa yang tiba-tiba datang mengusap hati perempuannya.
“Siapa lelaki ganteng tadi?” tanya Ambar tanpa menjawab pertanyaa Risnani.
“Sahabatku…”
“Kau kehilangan dia tampaknya?”
“Ya…”
“Kau begitu mencintainya?”
“DI muka bumi ini, rasanya lelaki yang paling kucintai hanya ayahku dan dia. Itulah sebabnya aku sangat kehilangan dia,” ucap Risnani letih.
Ambar bangkit dari kasur itu. DI tatapnya mata redup milik sahabatnya, yang juga tengah menatap sendu padanya.
“Dia mencintaimu?”
Risnani mengangguk pelan.
“Dia pernah mengajakmu menikah?”
“Ya….”
“Kau mau?” tanya Ambar semakin penasaran.
Risnani menggeleng. Tatapannya luruh ke lantai. Lantai yang dingin terasa semakin beku. Dingin, beku dan kelam.
“Mengapa?”
“Dia terlalu baik untukku…”
“Meski kau mencintainya?”
“Ya, meski aku mencintainya..”
“Meski dia mencintaimu?”
“Sangat! Dia sangat mencintaiku, Ambar!”
“Lantas mengapa kau memilih Doddy? Kau mencintai Doddy?”
Risnani menggelang. Ambar semakin penasaran. Ia tatap lurus-lurus wajah Risnani. Wajah yang bersih, cantik dan lembut! Ia tatap telaga mata sahabtanya. Hm, telaga mata yang sangat indah! Gumannya. Jarang seseorang memiliki telaaga maata seindah milik Risnani. Demikian lembut dan berwibawa. Telaaga mata yang selalu mendatangkan rasa kagum, bila menikmatinya. Ambar menarik nafas panjang. Ternyata selama ini ia belum mengerti banyak tentang pribadi Risnani.
“Aku tak mengerti….,” desah Ambar.

Loading...
Loading...