Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Masih ada Puisi Cinta - 11

Risnani bangkit dari duduknya dan ia baringkan tubuhnya di samping Ambar. Baru kali ini di rasakannya ia menggalami keletihan yang sangat. matanya menerawang kesuraman langit-langit kamarnya. Merajur kembali hari-hari yang telah di laluinya. Yang penuh kubangan lumpur dosa. Ya, dunia yang penuh kemaksiatan. Risnani menarik nafas berat. Dosa terlalu sarat membebaninya.
“Tiar terlalu baik untukku, Mbar! Aku merasa tak pantas di sisinya. Tapi aku selalu berdoa untuk kebahagiaanya..”
“Kau punya alasan yang kuat, mengapa kau memilih Doddy daripada cowok tadi?
“Dunia kita, Ambar! Dunia kita! Apa kau tak pernah merasa rendah dan demikian hina, jika ci cintai pemuda baik-baik? Sementara kau berkubang lumpur?”
Ambar terhempas. Risnani terhenyak. Jendela kamar masih terbuka. Langit tetap sekelam tadi. Hanya lampu-lampu neon, arima kota, yang gemerlap bagai lelatu emas di bawah sana, di balik jendela-jendela rumah penduduk.
Ucapan Risnani justru cukup menggigit hati mereka sendiri, yang sebenarnya memang sudah rapuh. Ya, nilah kenyataan yang sedang mereka alami. Entahlah! Kehidupan macam apa yang sedang mereka lakukan selama ini. Kadang-kadang mereka sendiri tidak mengerti, apa yang sedang mereka cari sebenarnya. Kepuasan? Uang? Ah, entahlah! Mereka hanya menyadari bahwa nasib telah menyeretnya ke lembah prostitusi semacam ini.
Beberapa menit kamar itu sepi. Sepi yang senyap, meski di bawah sana, di ruang rendezvous, mereka menyebutnya begitu, terdengar musik hingar bingar.
“Kau yakin Doddy pemuda baik-baik?”
“Risnani tersenyum. Kemudian bangkit dan melangkah ke jendela yang masih terbuka. Menutupnya, kemudian duduk di samping Ambar kembali.
“Setiap lelaki yang datang ke sini, ke tempat semacam ini, dan berani menjamah perempuan di sini, satu, dua, tiga aatau lebih, ataui bahkan berani dengan perempuan lain berulangkali, menggaulinya seperti perempuan pertama, dia, lelaki itu, bukanlah lelaki yang baik. Kau dengar, Ambar? Dia pasti bukan lelaki yang baik!”
Ambar termenung.  Benar apa yang di katakan Risnani. Setidaknya lelaki itu bukanlah idaman perempuan yang membutuhkan kedamaian.
“Lantas apa yang mendorongmu mau menikah dengan Doddy, padahal kau taahu dia bukan pemuda baik-baik, serta kau pun tak mencintainya pula?”
“Aku bosan dengan kehidupan semacam ini. Mas Doddy memberikan harapan padaku, meski aku sadar benar bahwa dia bukanlah lelaki yang ku impikan. Namun apa salahnay aku menjadi perempuan baik-baik, Ambar? Tak pantaskah aku menjadi perempuan yang mengabdi kepada suami dan mengurusi anak-anak?”

NEXT 
Loading...
Loading...