Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Masih ada Puisi Cinta - 6

“Ya?”
“Kita masih memiliki sepotong cinta bukan? Meski sudah retak dan hancur?”
Risnani menatap Tiar sedih. Kemudian mengangguk lemah. Sepasang air mata kembali bergulir. Sepasang sungai mungil dan bening kembali mengalir deras di  pipinya.
“terima kasih, Ris…,” desah Tiar lirik. Digapainya bahu Risnani. Diciumnya kening perempuan yang telah mengisi sudaut hatinya yang paling dalam itu dengan lembut.
Risnani bergetar menerima semua itu.
Dipejamkanny mata redupnya rapat-rapat. Ia menikamti sepotong cinta yang tinggal puing-puingnya itu. Ianikmati yang sekilas itu dengan segenap perasaannya yang tesisa. Yang sebetulnya hampir musnah di telan perjalanan hidup. Yang hampir hilang oleh waktu. Tetapi tiba-tiba Risnani ingat bahwa ia tak berhak memiliki cinta lagi. Wajahnya kembali suram.
Tiar melihat perubahan itu.
“Aku masih berhak memilikimu?” tanya Tiar dalam kesenduhannya. Lembut tapi senduh.
Risnani diam. Ditatapnya Tiar dalam-dalam. Di mata yang teduh itu, ia melihat kesungguhan lelaki berdada bidang yang selama ini mengisi hatinya. Hati terdalam seorang wanita yang ternyata masih memiliki sisa kelembutan. Hati yang paling jujur.
Perempuan itu untuk kesekian kali menggigit bibinya yang tipis. Tampak sekali getaran sedih di sana.
“Aku masih berhak bukan Ris?”
“Hatiku?”
“Semuanya!”
“Sekarang silahkan, aku milikmu!” ucap Risnani tegas. Nyeri mengiris hatinya yang memang sudah rapuh.
“Sekarang dan seterusnya, Ris…”
Risnani menggeleng. Pelan sekali wajahnya luruh. Bibirnya bergetar. Rasanya pingin sekali memeluk dada bidang itu. Menyembunyikan kegetiran yang merejam.
“Kau benar-benar tidak bisa meningalkan lelaki itu, Ris? Demi aku? Demi anak kita? Demi kita?”
Risnani semakin terisak-isak. Ooo, mengapa jadi begini perih? Mengapa segalanyaa jd seperi sembilu yang menghujam ulu hati? Mengapa? Risnani semakin terisak sedih. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan.
“Ris…?”
“Maafkan aku, Mas! Maafkan aku! Tak mungkin kutinggalkan dia begitu saja,” ucap Risnani diantara isaknya.
Tiar teriris pilu. Langit-langit hatinya kelam. Lenyap sudah semua harapan.  Dan pelabuhan hati itu, yang selalu di dambakan, tidak pernah ia temui. Sepertinya tak pernah ada.
“Baiklah, Ris. Semoga kau bahagia!” ucap Tiar patah. Ia balikkan tubuhnya yang kekar itu dengan lesu. Kemudian ia tinggalkan tempat itu dengan perasaan kacau dan kecewa.
“Mas!” teriak Risnani ketika Tiar hampir menutup pintu kamar itu.
Tiar behenti melangkah. Di tatapnya Risnani.
Perempuan itu melangkah ke bufet. Menarik laci itu kembali. Mengambil sesobek kertas dan menulisinya dengan gugup. Ada butiran bening jatuh ke sobekan kertas itu. Ia usap sebentar. Tulisan itu menjadi buram. Ia ambil kertas yang lain. Ia tulisi kembali. Kali ini dengan sedikit hati-hati. Kemudian setelah jadi ia berikan kepada Tiar yang masih berdiri mematung di depan pintu.
“Alamat anak kita…”
“Terima kasih, Ris. Hampir aku lupa,” ucap Tiar.
“Kumohon, jangan  ceritakan padanya keadaanku…”
Tiar tersenyum lembut. di ciumnya sekali lagi kening wanita yang selalu mengisi hatinya itu. Yang sekarang dekat tapi ternyata sangat sulit buat di gapai kembali.

“Aku menyintaimu sampai kapan pun…,” bisik Tiar di telinga Risnani. Perempuan itu memejamkan matanya. ia menikmati ucapan yang lembut itu.

 NEXT 
Loading...
Loading...