Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Masih ada Puisi Cinta - 7

“Mengapa baru saat ini kau datang, Mas?” tanya Risnani dalam hati, “tak kalah aku terlanjur melangkah jauh. Dan tak mungkin berbalik lagi ke pangkuanmu. Mengapa tidak ketika aku sangat membutuhkan kehadiranmu? Mengapa?”
“Ris…”
Risnani menatap lelaki dengan dada bidang itu. Dikuatkannya untuk memberikan sebuah senyum. Meskipun hatinya menjerit pilu.
“Ris, kau dengar suaraku?”
Risnani hanya mengangguk. Lirih tanpa suara.
“Jaga dirimu baik-baik!”
“Tentu….”
“Kau kecewa, Mas?”
“Tentu…”
“Maafkan aku, Mas!”
Tiar tersenyum. Diusapnya rambut sebahu yang bergelombang dan hitam itu dengan penuh keasihan. Ingin raanya Tiar menunjukan bahwa ia sangat mencintai Risnani. Ingin rasanya ia mengatakan bahwa ia sangat kehilangan perempuan itu. Tapi, ah! Risnani sudah tak mungkin dapat di remgkuhnya. Ia yang sekarang berdiri di hadapannya, bahkan dalam pelukannya sudah terlalu jauh buat di gapai kembali. Biarlah dia berlalu, guman hati Tiar sedih.
“Segalanya telah terjadi, Ris. Dan aku memaklumi semua itu,” ucap Tiar lembut sambil tersenyum dan melangkah pergi.
“Jaga dirimu baik-baik..!”
Risnani mengangguk pelan. Meski ia yakin benar laki-laki kekar dengan rambut lurus dan gilap itu tidak melihat gerakan kepalanya.
Ditariknya nafas dalam-dalam.
Ditatapnya punggung orang terkasih itu berlalu.
Disandarkannya tubuhnya pada pintu kamar, “biarlah dia berlalu. Biarlah dia melangkah.” Risnani tersenyum getir. Kamar tingkat tiga no 23 itu menjadi hening. Dan mata Risnani buram oleh butiran bening yang mengembang.

***

Risnani masih menatap punggung lelaki yang pernah dekat dengan hatinya. Yang pernah mengisi sebagian dari perjalanan hidupnya. Dua anak sungaimasih membasahi kedua pipinya yang pias. Telaga matanya masih sembab.
Perempuan itu masih termangu di pintu kamar. Kepergian laki-laki itu cukup menggoncangkan perasaannya, meski dia sendiri yang berharap agar lelaki itu meninggalkannya. Pertemuan yang sekilas, setelah sekian tahun mereka tidak bertemu, cukup meninggalkan kesan yang dalam. Bagaimanapun sosok tubuh kekar dengan dada bidang itulah yang selama sekian tahun ini, selalu mengisi kisi-kisi hatinya. Meski tidak selalu bayangan masa lalu itu dirasakannya manis untuk dikenang. Bahkan kadang-kadang seperi duri yang menusuk. Namun Risnani sulit buat melupakannya.
Jemari tanganya menyisir rambut yang tergerai di keningnya, ketika sebuah tepukan halus menyentuh pundaknya.
Risnani berjingkat kaget.
“Ambar…,”desahnya. Ia mengusap pipinya dari genangan butiran bening.
“Perpisahan yang sendu?”
“Ya…”
“Lelaki yang hebat dan berkesan tampaknya?”
“Ya…”
“Kau tertarik padanya?”
“Ya…”
“Ah! Jangan  asal ‘ya’ dong tak enak di kuping,” gerutu Ambar sambil menowel pipi Risnani yang tirus.
“Habis, dia memang menarik hati sejak dulu,” kata Risnani di buat seceria mungkin. Ia ingin mengetahui sahabatnya itu tertawa karena melihat ia baru saja menangis.”
“Hei, kau sedang jatuh cinta rupanya?”

“Aku memang mencintainya,” jawab Risnani masih menatap ke tempat Tiar menghilang.

Loading...
Loading...