Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Masih ada Puisi Cinta - 8

“Kawin saja!” sergah Ambar.
“Doddy mau di kemanakan?”
“Alaaa…! Sok, kamu ah! Setiap hari kamu juga ganti cowok. Tinggal saja Doddy mu itu. Dia kulihat lebih Gallant, lho! Cakep lagi,” serang Ambar serius.
“Kami sudah mau menikah Ambar,” ucap Risnani sambil meninggalkan Ambar yang terbengong-bengong.
Ambar mengikutinya masuk ke kamar itu. Tapi melihat tempat tidur yang rapi, Ambar berdecak-decak.
“Ck..ck..ck! cepat benar kau rapikan kasurmu, Ris!”
Ambar tertawa sambil menghempaskan tubuhnya di kasur yang memang masih rapi itu. Dia terlentang begitu saja.
Risnani hanya bisa menelan luda getir. Ditariknya nafa dalam-dalam.
“Hari ini kau tampak lain, Risnani. Ada sesuatu yang terjadi? Atau kau sedang sakit?”
“Kau tidak operasi, Ambar?” Risnani ganti bertanya. Ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. Tapi Ambar cukup jeli.
“Aku sedang kena palang merah! Hei kau baru saja menangis, Ris?” Risnani tersenyum. Kemudian menggelengkan lemah.
“Kau jangan  dustai aku, Ris! Matamu sembab, Ris. Tapi jangan bilang habis ketiban cicak ya!” kata Ambar sambil menatap lurus sahabatnya.
Risnani menuju toilet. Ia menatap matanya yang memang memerah. Lewat cermin besar yang ada di situ. Bagaimanapun ia sembunyikan mata yang sembab seperti itu, tak dapat tidak, pasti semua orang menyangka baru menangis. Dan dia tidak terbiasa berbohong.
“Masak kepadaku, kau tak bisa menceritakannya, Risnani!”
“Maaf, Mbar, bukan maksudku begitu! Tapi, memang sedang kacau pikiranku,” kata Risnani akhirnya.
“Cowok perkasa tadi?” Ambar menduga.
Risnani mengangguk lirih.
“Mengapa?”
“Aku kehilangan dia…”
“Marah-marah?”
Risnani menggeleng.
“Dia sangat baik, tak mungkin menamparku,” kata Risnani menjelaskan. Ambar makin bengong. Tak mengerti tentunya.
“Dia mencapmu wanita jaalan?”
“Tidak…”
“Lantas apa yang ia lakukan kepadamu?”
“Ia tidak berbuat apa-apa padaku…”
“Kau ini bagaimana sih?”
“Ya tidak bagaimana-bagaimana. Dia datang, aku kaget, kemudian dia pergi dan aku kehilangan dia. Sudah, begitu saja,” ucap Risnani melihat Ambar senewen sendiri.
“Kau menangis tadi, hanya sandiwara?”
“Tidak…”
“Sialan! Kau menangis beneran?”
“Ya, tentu saja sungguh-sungguh. Masak nangis bisa dibuat-buat?” tanya Risnani pira-pura bodoh.
“Kau bodoh amat sih! Tentu saja bisa. Terutama kaum prostitusi seperti kita ini. Biasanya kalau menangis, kan biar dapat duit banyak? Terutama menghadapiom-om yang berkantong tebal itu. Masak kau tak pernah melakukan hal itu?”
Risnani menggeleng.
“Betul nih?”
“Bener…”
“Ah, kau tak perlu nangis sih, yang datang tetep beri banyak tip untukmu, iya kan?”
“Ah biasa saja…”
Saat itu masuk wanita gemuk ke kamar Risnani. Melihat siapa yang datang, ambat cemberut sengit!
Loading...
Loading...