Hai !!! Selamat membaca..! Semoga menginspirasi...

Masih ada Puisi Cinta - 9

“Selamat malam, Ris. Selamat malam, Ambar,” ucap dan salam yang ramah dari wanita yang baru saja masuk itu. Namun keramahan itu di sambut dengan muka masam oleh Ambar. Entah mengapa, keramahan perempuan tambun itu begitu memuakkan bagi Ambar. Sementara itu, Risnani hanya menghela bafas dalam-dalam. Ia sudah tahu maksud perempuan gendut yang sudah terbiasa ia panggil dengan sebutan Mami Ony itu. Biasa, pajak untuk tidap gundul laki-laki yang masuk kekamarnya.
“Malam, mami…”
“Lelah, Ris?” tanya Mami Ony sambil tersenyum genit. Entah mengapa, Risnani merasa muak pula dengan perempuan tambun itu.
“Ya, cukup lelah juga, Mam!” jawab Risnani sambil tersenyum getir. Matanya melirik ambat. Sahabatnya itu membuang muka jauh-jauh, seperti enggan melihat muka yang berlipat-lipat milik Mami Ony tersebut.
“Saya harap Mami tidak usah menerima tamu untukku, malam ini. Berikan saja kepada yang lain. Bilang saja Risnani agak sakit, kalau ada yang tanya. Kecuali Mas Doddy,” kata Risnani getir. Ia memang kerjanya seperti kuda. Di dera dan di cambuk. Ia harus berpacu diantara waktu dan uang. Sementara di rasakannya, usia makin bertambah tua. Kekuatannya makin lemah. Semangatnya kian susut. Tubuhnya pun tak lagi menarik bagi laki-laki.
“Risnani, kan baru satu?”
Risnani mengangguk muak. Ia sudah menduga rekasi Mami Ony akan demikian. Ia sudah tahu macam apa hati perempuan tambun itu.
“Jangan khawatir, Mam!” aku akan bayar tiga sekaligus, kuharap Mami mau mengerti keadaanku,” ucap Risnani sambil menuju almari pakaiannya.
“Tapi Ris, lebih banyak yang cari kau dari yang lain.”
“Kan Mami bisa katakan aku sedang sakit atau sedang di bawa sampai besok sore,” kata Risnani semakin muak menghadapi wanita serakah itu.
“Baiklah, kalau begitu…”
Risnani mengangsurkan tiga lembar puluhan ribu kepada perempuan gembrot itu. Sementara, Ambar terbelalak melihatnya. Ia mengerti maksud Risnani.
Mami Ony tersenyum-senyum menjemukan di mata Ambar. Ia terima uang ug di sodorkan Risnani dan di masukkan ke sela behanya.
Risnani hanya menarik nafas letih dan kesal melihat tingkah sang ‘Boss’ itu.
Sebelum Mami Ony keluar dari kamar itu, ia sempat berbicara pada Ambar yang semakin jengkel di buatnya.
“Kau tidak cari tamu Ambar?”
“Apa Mami tidak pernah kena palang merah?” sergah Ambar dengan nada tinggi, berang!
“Bukan begitu. Empat hari yang lalu, kau belum berikan setoran dua kali berturut-turut, kan Mami yang rugi,” katanya sambil memelototi Ambar.
“Mami kan tahu, aku sakit waktu itu. Seharusnya Mami memaklumi…” kata Ambar menjelaskan. Tapi Mami Ony mana mau tahu. Mukanya cemberut. Persis muka badak! Maki Ambar dalam hati.
“Iya, maklum..maklum terus bisa bangkrut perusahaan ini,” katanya sambil menyeret tubuh tambumnya. Perempuan itu keluar sambil mengerundel pada Ambar.
“Perusahaan pantatmu…! Sergah Ambar keki.
“Sssttt…!” Risnani memperingatkan Ambar untuk tidak mengatakannya keras-keras. Ia takut Mami Ony mendengar makian Ambar.
“Hati-hati kalau bicara dengannya! Ingat Mira tidak , kau?” bisik Risnani di telinga Ambar.
“Ya, jelas sekali dalam ingatanku. Siapa yang tega berbuat sekeji itu kalau bukan begundal-begundalnya?”
“Sstt.t, Ambar?!”

Peduli setan! Kaalau tidak ada Bang Dolit dan kawan-kawannya di sini, sudah ku cakar muka perempuan gembrot itu,” kata Ambar acuh sambil menghempaskan tubuhnya yang loyo ke kasur. Matanya berkaca-kaca. Sakit hati dan kesedihan membludak dalam dadanya ia menatap langit-langit kamar yang biru redup itu. Pikirannya menerawang jauh entah kemana. Yang jelas, mata yang jarang sembab itu, sekarang sedang mengalirkan air mata kesedihan.
Loading...
Loading...